Media

 

Sosok dan Kiprah; Ubiet
Memadukan Musik, Identitas Diri dan Tradisi

Selamat berjumpa lagi para pembaca. Kalau Anda kurang bisa bernyanyi bukan berarti Anda tidak bisa bernyanyi karena menyanyi dilakukan setiap orang, tetapi memang tidak setiap orang mau atau mampu menjadi penyanyi. Karena itu munculnya penyanyi-penyanyi sering dianggap orang memang terlahir sebagai penyanyi.

Tamu kita kali ini penyanyi yang banyak berkecimpung di dunia musik yaitu Ubiet kependekan dari Nyak Ina Rasueki. Ubiet yang lahir dan besar di Aceh belajar menyanyi sejak kecil. Berikut percakapan Faisol Riza dengan Ubiet.


Apa pelajaran penting untuk menjadi seorang penyanyi?

Sebetulnya latihan sebanyak mungkin. Memang ada teknik yang harus dipelajari karena ada berbagai macam jenis musik. Tentu saja untuk musik klasik orang harus melalui latihan yang sangat panjang dan lama. Kalau kita mau menyanyi popular juga ada teknik. Namun, dengan tanpa merendahkan musik popular, mungkin tekniknya tidak harus terlalu mendalam dipelajari. Jadi saya kira latihan banyak itu yang paling penting.

Siapa orang-orang yang berpengaruh terhadap Anda sehingga menjadi seperti sekarang ini?

Saya tidak pernah merasa ada satu orang atau seorang maestro yang mempengaruhi gaya menyanyi saya. Sebab, saya banyak jalan berkeliling, mendengarkan para penyanyi-penyanyi tradisi, modern, klasik, maupun popular. Juga banyak mendengarkan rekaman-rekaman. Jadi itu yang paling banyak mempengaruhi saya.

Maksud saya, guru saya tidak satu tapi banyak. Jadi saya tidak mau mendapat pengaruh dari hanya segelintir atau sekelompok orang saja karena pada 15 tahun lalu saya ingin menemukan sebuah style yang baru dengan cara mau mendengarkan sebanyak mungkin gaya bernyanyi.

Apakah ada dorongan khusus mungkin dari orang-orang terdekat, keluarga, teman, atau lingkungan tertentu sehingga menjadikan Anda seperti sekarang ini?

Ibu saya sebetulnya menyanyi tapi tidak ada dorongan yang khusus. Saya hanya menemukan saja pelan-pelan. Saya belajar menyanyi gaya modern lalu mendengarkan juga nyanyian tradisika sewaktu di Aceh. Kemudian saya pindah ke Jakarta dan masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di sana saya belajar musik atau menyanyi dengan gaya klasik, opera atau seriosa. Tapi pada suatu saat saya tertarik lagi pada musik gaya tradisi. Jadi belajar banyak dan pindah-pindah. Waktu itu mungkin sedang galau. Apakah musik ini benar atau tidak yang saya mau. Apakah gaya musik popular saja tapi kemudian saya bosan lalu ke musik klasik. Kemudian saya juga bosan dengan musik klasik. Di situ saya mulai mencari-cari, kira-kira 10-15 tahun yang lalu.

 

Saya pernah mendengarkan satu musik rock tetapi dilafalkan dalam bahasa Arab dan buat saya itu agak aneh. Hal yang sama seperti saat menyaksikan Anda menyanyi dengan gaya musik klasik atau opera tapi dalam bahasa Indonesia. Waktu itu kalau tidak salah menyanyikan visi grand moment. Untuk orang seperti saya yang tidak terlalu peka dengan keindahan, itu pelan-pelan melatih orang awam terhadap inovasi musik. Namun apakah memang memungkinkan untuk melakukan inovasi-inovasi musik seperti itu?

Saya kira pengalaman mendengarkan dan berinteraksi dengan beberapa composer dan beberapa musik tradisi menjadikan gaya bernyanyi saya berubah dari satu gaya ke gaya yang lain. Tapi saya tidak menolak musik popular, tidak menolak musik klasik. Buktinya, saya mau mengajar di sebuah stasiun televisi untuk menyanyi popular. Kendati demikian saya akan mempertahankan gaya saya dan mungkin hanya jenis musiknya yang berbeda.

Jadi kalau saya menyanyi seperti yang Anda sebutkan tadi "Bersenyum pada Muhammad" dengan musiknya Toni Prabowo tentu saja saya harus mengikuti style itu. Tapi saya akan pertahankan style vokal saya. Begitu juga ketika saya menyanyikan musik popular seperti saat bergabung dengan beberapa teman. Malah sampai sekarang pun ketika bertemu dengan kelompok Krakatau, saya mempertahankan gaya saya. Musiknya mungkin berbeda tetapi gaya bernyanyi akan sama, saya kira itu.

Orang mengatakan kelangsungan hidup suatu kesenian terkadang sangat tergantung dengan lingkungannya. Seperti dulu saya dulu mungkin tidak menyukai keroncong dan lama-lama saya lihat di televisi juga sudah tidak ada keroncong. Apakah itu karena banyak orang seperti saya yang memang tidak terbiasa mendengarkan musik keroncong dan lebih memilih musik lain atau ada hal lain saya tidak tahu persis. Tetapi barangkali memahami suatu musik itu membutuhkan suatu cara memahaminya. Kalau Anda menyajikan sesuatu yang alternatif barangkali perlu juga memberikan pada orang cara memahaminya.

 

Bagaimana kira-kira menjelaskan kepada orang cara memahaminya?

Kalau saya menjadi pendengar saja tanpa harus mengamati maka ketika saya mendengarkan musik tentunya harus punya semacam bagasi yang kita bawa ke dalam ruangan pertunjukkan. Biasanya orang awam itu mendengarkan musik sebatas pada enak atau tidak enak. Tapi tidak sekadar itu. Kita mungkin bisa mendapatkan unsur-unsurnya. Apakah unsur ritmennya, unsur percampuran alat musiknya atau gaya si penyanyi. Apakah ada cengkoknya atau oramentasinya lebih enak, dan bagaimana gaya suaranya.

Jadi kalau saya tidak familiar dengan sebuah gaya musik maka saya mencari unsur-unsur di dalam musik itu. Saya kira itulah satu jalan koridor untuk mendengarkan musik yaitu mendengarkan unsur-unsur musiknya, alat musiknya, lalu percampuran alat musiknya. Ini seperti kalau kita menonton lukisan. Tidak sekadar menatap lukisan itu tapi menerawang. Kita mencari unsur-unsur yang ada di dalam lukisan itu. Begitu juga dalam melihat sebuah tarian, adakah unsur-unsur yang bisa kita amati. Saya kira itu cara saya, saya tidak tahu cara orang lain.

Banyak orang melihat bahwa perkembangan musik di dunia atau masing-masing negara atau daerah sangat diwarnai oleh suatu perubahan di dalam masyarakat. Kadang-kadang ada perubahan sosial, budaya yang mau tidak mau kemudian mencampuri musik atau mewarnai alat musik. Kalau Anda bilang musik pop di Indonesia tidak mempunyai karakter, apakah itu memang karena tidak ada perubahan di dalam masyarakat, apakah tidak ada sesuatu yang menunjukkan gejala sosial ini tidak hanya berbatas dengan politik dan ekonomi tapi juga mewarnai kehidupan kesenian?

Mungkin tidak semua musik populer tidak punya karakter. Saya kira musik semacam keroncong atau dangdut adalah musik yang berkarakter Indonesia. Prosesnya juga begitu lama. Kita tahu, musik keroncong dibawa ke sini sekitar abad ke-16 oleh Portugis. Sedangkan jenis musik yang mempengaruhi keroncong itu vado dan musik itu masih ada di Portugal sampai sekarang. Tapi ada terjadi semacam percampuran antara keroncong dan vado. Saya membayangkan ada jenis-jenis musik lain yang juga bisa tumbuh karena percampuran itu tapi bukan dipaksakan, bukan dengan sengaja di campur-campurkan. Jadi kalau kita mau bicara karakter saya kira musik-musik yang semacam hipbreath, yang berkarakter.

Anda sudah bergabung dengan Krakatau dan Anda tampaknya ingin mencampurkan industri musik dengan gaya Krakatau dalam satu karya dengan gaya bernyanyi Anda. Betulkah begitu?


Iya, Krakatau salah satu kelompok yang melakukan itu dengan sengaja. Saya tidak tahu apakah mereka sudah berhasil atau belum. Mungkin anda-anda yang bisa menilai itu. Tapi kalau dari sudut pandang saya, ketika saya bergabung dengan Krakatau tentu saja mereka sudah mencoba melakukannya. Misalnya, Dwiki Dharmawan mencoba mengubah penalaan keybordnya ke penalaan salendro.

Jadi kami menggunakan bonang-bonang yang penalaannya disamakan dengan penalaan keybord atau penalaan bas Dwiki Dharmawan. Jadi ada usaha seperti itu. Tapi mungkin ada hal-hal lain yang mungkin harus diolah lebih lanjut. Mungkin komposisinya karena selama ini mereka sebetulnya pemain musik jazz. Tentu saja mereka memakai medium musik jazz. Menurut saya mereka belum terlalu jauh untuk mengolah komposisi musik sunda, misalnya dari degung atau yang lain. Jadi ketika saya bergabung saya sering memasukan unsur yang lain. Selama ini mereka hanya Jawa Barat tapi saya memasukan musik melayu. Misalnya, paling sedikit dengan gaya menyanyi.

Kemarin kami juga menggunakan sebuah lirik dari Rote. Memang hanya lirik tapi paling tidak ada beberapa unsur musik yang saya pikir campuran. Jadi tidak cuma dari Flores tapi mungkin ada juga dari tempat lain. Jadi saya tidak serta mengatakan bahwa ini dari Flores, atau ini dari Manado, Ini dari Madura. Tapi campuran itu semua. Saya tidak tahu nanti jadinya apa. Kalau dulu jadinya keroncong atau dangdut tapi nanti mungkin jadinya musik X, saya tidak tahu.

Ada banyak orang yang memiliki identitas tertentu dan kemudian berhasil sehingga terkadang tidak mau untuk berubah. Kalau berubah dianggap nanti akan kehilangan identitasnya dan mungkin kehilangan tempat eksis. Apakah Anda dengan identitas yang sekarang tidak takut berubah, misalnya, bergabung dengan kelompok musik seperti Krakatau atau mungkin yang lainnya?

Saya kira mengapa kita harus takut perubahan. Perubahan pasti terjadi tapi setiap orang pasti punya karakter dalam hal bernyanyi. Dan karakter itu akan berubah tapi tidak akan berubah 100%. Saya percaya itu. Jadi karakter saya akan tetap ada di sana terus saya menyesuaikan diri. Kalau saya dengan Tony Prabowo saya harus menyesuaikan diri dengan gaya musiknya. Begitu pula ketika dengan krakatau. Kalau kita pergi ke sebuah tempat maka harus menyesuaikan diri dengan makanan setempat.

Selain bernyanyi, menggeluti musik, dan alat-alat musik, Apa kegiatan Anda lainnya yang berkaitan musik tapi melibatkan banyak orang?

Salah satu yang sedang saya kerjakan bersama teman-teman mengelola sebuah Lembaga Pendidikan Seni Nusantara yang menyediakan materi baik buku maupun audio visual serta pelatihan guru-guru untuk sekolah menengah pertama dan atas. Kami menyiapkan bahan-bahan ini tidak menuruti aturan kurikulum kita yang dulu.

Apakah Anda juga masih mengajar di beberapa lembaga musik?

Iya saya masih tetap mengajar. Saya mengajar sudah sejak lama. Ketika masih kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), saya sudah mengajar vokal. Jadi saya memang hidup di dalam beberapa dunia yaitu ada dunia musik tradisi, musik popular, ada juga dunia musik apalah namanya silahkan beri judul saja.

Menurut Anda, apakah memang betul bahwa kesenian dan musik itu bisa mengubah watak masyarakat?

Saya tidak percaya itu. Sebuah kesenian memang hidup dalam sebuah masyarakat, dan tadi kita membicarakan itu. Sebuah jenis musik atau seni rupa atau apa pun juga hidup untuk sebuah masyarakat tertentu juga. Jadi ada kotak-kotak. Saya percaya itu. Jadi ketika menyanyikan sebuah gaya musik, saya akan menggunakan segala gaya saya dan mungkin itu tidak berlaku untuk kelompok yang lain. Lalu mengapa saya harus membatasi diri atau mengurangi atau berkompromi untuk menyenangkan kelompok lain. Saya tidak percaya itu. Jadi kita harus mempertahankan gaya artistik kita.

Apa tanggapan Anda terhadap adanya ancaman yang disampaikan oleh kelompok orang yang menganggap musik dan lain sebagainya merupakan ancaman bagi masyarakat sehingga harus dilarang. Bagaimana tanggapan Anda terhadap larangan-larangan semacam itu yang muncul dari beberapa kelompok dan barangkali menurut sebagian orang menggangu kebebasan berekspresi?

Kalau kita mengikuti semua ancaman akan susah hidup kita. Kalau kita harus mengikuti keinginan semua orang akan mati dong kesenian. Menurut saya, kita harus mempunyai pikiran sendiri dalam kesenian dan kita harus pertahankan itu, saya kira itu saja. **

 

Artikel ini dikutip dari Pontianak Post, 30 Oktober 2005

 

Other Releases

 

Krakatau - Rhythm of Reformation
(2005) CD & Cassette

Krakatau - 2 Worlds
(2005) CD & Cassette

 

Privacy Policy | Contact Us | ©2006-2007 MusiKita Productions.
All rights reserved - Site design and maintained by WartaJazz.com