![]()
Paduan Suara dari Sebuah Mulut (Ubiet)
Oleh Salomo Simanungkalit
Setelah enam tahun menunggu suara berlapisnya melagukan komposisi-komposisi paduan suara Tony Prabowo diterbitkan dalam bentuk rekaman, penyanyi Ubiet, akhir November lalu, menggenapi impiannya: meluncurkan album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo. Lebih detail
Jadilah sebuah paduan suara dengan empat, delapan, bahkan sampai 36 lapis suara—terentang dari vokal laki-laki terendah (bas) sampai vokal perempuan tertinggi (sopran)—yang dihasilkan hanya oleh sebuah mulut seorang wanita bernama Nyak Ina Raseuki alias Ubiet.
Dari tanah kembali ke tanah! Itulah firman menutup kehidupan orang-orang percaya. Dari rekaman kembali ke rekaman! Itulah sabda membuka kehidupan dokumentasi musik garda depan Indonesia masa kini: Ubiet melagukan karya-karya Tony Prabowo.
Betapa tidak! Untuk memungkinkan konser-konsernya dalam delapan tahun terakhir terselenggara, seorang diri (sekali lagi: seorang diri) menyanyikan karya-karya paduan suara Tony Prabowo, Ubiet mutlak melakukan kegiatan ini: merekam suaranya di studio membawakan satu demi satu lapis suara dengan teknik rekam-tindih-rekaman. Setelah rekaman lengkap (minus satu) jadi, barulah Ubiet tampil di atas panggung membawakan langsung lapis suara teratas di hadapan penonton simultan dengan rekaman tadi yang diputar ulang.
Apa jadinya? Bayangkanlah "Osanna in excelsis" dari Missa dalam b-minor JS Bach yang delapan suara itu diperdengarkan dari mulut seorang penyanyi saja. Kalau ini sulit Anda bayangkan, kenang saja lagu-lagu Manhattan Transfer dalam kawanan lengkapnya tapi hanya oleh seorang penyanyi. Kira-kira begitu yang terdengar setiap kali menonton konser Ubiet dalam urapan Tony Prabowo.
Namun, penyanyi yang selalu berupaya mengolah bunyi dengan berbagai gaya, teknik, dan ekspresi merujuk ke pelbagai tradisi bersuara indah lintas daerah lintas negara itu punya keinginan terpendam. Kemungkinan-kemungkinan belia dalam bernyanyi yang ia upayakan itu dapat sampai ke telinga (dan kepala) pencinta musik di berbagai tempat dan masa. Jadi, rekaman latar dan suara langsungnya di panggung tidak hanya terserap oleh telinga penonton, tapi bisa sampai ke siapa saja melalui sebuah album rekaman. Dengan kata lain: rekaman harus kembali ke rekaman!
Tanggapan beberapa perusahaan rekaman selama ini alami saja: ini bukan proyek untung! Untung ada Dwiki Dharmawan. Sahabat Ubiet di grup musik Krakatau ini menerbitkan album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo di bawah bendera Musikita. "Saya harus menunggu enam tahun sampai album ini diluncurkan, setelah ketemu teman saya, Dwiki," kata Ubiet pada peluncuran, 28 November lalu, di Hard Rock Café Jakarta. "Tak satu label pun yang mau menerbitkan CD ini."
Tentu saja enam tahun masa adven ini harus dibaca sebagai masa keinginan mengalbumkan jenis musik dan cara menyanyi yang tak lazim ini. Soalnya, hanya satu dari 11 karya Tony yang terdapat di sini yang berusia lebih dari enam tahun (Ke Er Se, 1998). Lainnya malah kurang dari enam tahun.
Tujuh komposisi diciptakan tahun 2002 (Cerke, Hampa, The Funeral Pyre, Linastranisi, Requiem, Morituri, dan Wi En Te), tiga lainnya masing-masing digubah pada 2003 (The Art of Dying: Music for Multiple Voices), 2004 (Music for Multiple Voices), dan 2005 (Serambi for Multiple Voices). Statistik lain mengungkapkan, hanya lima dari 11 karya untuk vokal ini yang berbasis kata-kata: Hampa (puisi Chairil Anwar), The Funeral Pyre (Goenawan Mohamad dalam Opera Kali), Serambi (syair Aceh Saleum), Requiem (puisi Eva Christina Zeller dalam bahasa Jerman), dan Morituri (puisi Else Lasker-Schüler dalam bahasa Jerman). Enam lainnya bersandar pada suku bunyi tak bermakna.
Pembagian itu sebetulnya tidak begitu tajam sebab, kecuali Morituri dan separuh bagian dari Hampa, empat komposisi yang berbasis kata-kata itu oleh karena lebar dan durasi suku-suku musikalnya yang panjang dan kanon yang berlapis-lapis menjadi tak bermakna juga sampai ke pendengaran.
Tentu saja kritik pada titik ini tidak hanya dialamatkan kepada Tony Prabowo sebagai komposer yang menata suku-suku kata entah dalam nada tunggal entah dalam nada jamak (melisma), tapi juga Ubiet sebagai penyanyi yang menciptakan sendiri ornamen-ornamen bunyi, seperti yang diakuinya, di luar partitur yang disiapkan sang komposer.
Delapan komposisi adalah paduan suara melulu tanpa iringan musik instrumen. Tiga lainnya komposisi untuk suara tunggal dan berlapis iringan hanya dari satu instrumen (biola Stephanie Griffin pada Funeral Pyre dan Ke Er Se, serta saksofon Budi Winarto pada Morituri).
Pujian buat Ubiet tentulah pertama-tama pada fungsinya yang rangkap: pengaba sekaligus penyanyi semua lapis suara. Dalam tradisi paduan suara, tugas mengenali semua lapis suara berada di pundak pengaba. Tugas penyanyi adalah mengenali dan membawakan dengan tepat satu lapis lengkap yang merupakan tanggung jawabnya. Ubiet menjalankan kedua tugas itu dengan sempurna.
Nilai tambah harus diberikan kepada vokalis ini sebab lagu-lagu yang ia bawakan itu berasal dari jenis dengan jarak antarnada vertikal yang demikian rapat dan jarak antarnada horizontal yang amat variatif, merentang dari setengah nada sampai sembilan atau lebih nada. Hanya penyanyi dengan solfeggio sempurnalah yang dapat mengemban tugas ini dengan baik. Ubiet berhasil membaca partitur Tony Prabowo dengan caranya yang sangat pribadi sehingga spektrum lengkap nada yang terdiri dari 12 anak tangga itu terdengar dalam satu sapuan kalimat demi kalimat melodik.
Dengan berbahankan komposisi Tony Prabowo yang berkarakter kuat dan cara bernyanyi Ubiet yang inovatif, album Music for Solo Performer, Ubiet sings Tony Prabowo yang untuk tahap pertama dicetak sebanyak 1.000 keping ini merupakan sepucuk rekaman nyanyian dari sebuah negeri khatulistiwa yang berkekuatan jadi garam bagi musik dunia. Berbahagialah mereka yang mendengar!
Artikel ini dikutip dari Harian Kompas, terbit Sabtu, 16 Desember 2006
|
Krakatau - Rhythm of Reformation |
Krakatau - 2 Worlds |